Seputar skripsi

Bedah Kasus: Skripsi yang Jatuh karena Satu Angka yang Nggak Nyambung

PTK dianggap format paling aman karena strukturnya baku. Tapi justru karena itu, satu angka yang nggak konsisten antarbagian jadi jauh lebih gampang ketahuan.

Tim Qritis

·

17 Agustus 2026

Bedah Kasus: Skripsi yang Jatuh karena Satu Angka yang Nggak Nyambung

Skripsi ini jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) — format yang dianggap "aman" karena strukturnya sudah baku: siklus I, siklus II, refleksi, selesai. Tapi justru karena strukturnya baku, satu angka yang nggak konsisten antarbagian jadi jauh lebih gampang ketahuan.

Kita bedah satu pola PTK pendidikan dasar — objeknya peningkatan hasil belajar siswa pada satu mata pelajaran lewat metode pembelajaran tertentu, dua siklus (detail identitas dilepas; pola ini berulang di banyak PTK sejenis, bukan mengutip satu skripsi tertentu). Populasi kelasnya sekitar belasan siswa. Skripsi ini dinyatakan lulus — PTK memang jarang ditolak total karena formatnya sudah mengikuti template yang diterima luas. Tapi lima titik di dalamnya adalah jenis yang, kalau ditemukan dosen penguji yang membaca dua bab berdampingan, bisa jadi sangat berat dipertahankan.

1. Jumlah subjek yang berubah antara Bab III dan tabel hasil

Di Bab III, penulis menyebut subjek penelitian berjumlah 14 siswa. Di tabel hasil siklus II, jumlah siswa yang dinyatakan "tuntas" tertulis 16 orang. Dosen penguji membuka dua halaman itu berdampingan, dan diam sebentar sebelum bertanya. Dosen penguji bertanya: "Di Bab III subjek Anda 14 siswa. Di Tabel 2 tertulis 16 siswa tuntas. Bisa dijelaskan dua angka ini?" Yang sebenarnya diuji: konsistensi logika. Nggak mungkin ada 16 siswa tuntas dari populasi 14 siswa — salah satu angka keliru ditulis, atau ada siswa tambahan yang nggak pernah dijelaskan di metode. Penguji nggak perlu menghitung ulang apa pun; dia cukup menyandingkan dua angka yang penulis sendiri tulis di dua tempat berbeda.

2. Persentase ketuntasan yang pembaginya nggak disebut

Di narasi hasil, penulis menulis "ketuntasan belajar meningkat menjadi 63%". Tapi kalau dihitung dari 10 siswa tuntas (angka yang disebut di kalimat sebelumnya) dibagi 14 siswa subjek, hasilnya bukan 63% — ada jarak antara angka yang dilaporkan dan angka yang seharusnya keluar dari pembagian yang disebutkan sendiri. Dosen penguji bertanya: "Anda menulis 10 siswa tuntas sebagai 63 persen, sementara subjek Anda 14 orang. Coba sebutkan pembagi yang Anda gunakan untuk mendapat angka 63 persen itu." Yang sebenarnya diuji: validitas data. Penguji nggak menyatakan angkanya salah dan nggak menghitung ulang untukmu — dia cuma menunjuk letaknya, lalu menuntut penulis sendiri yang menjelaskan asal pembaginya. Kalau penulis nggak bisa menjelaskan dari mana 63% itu berasal, itu tanda angkanya ditulis tanpa dihitung ulang saat draf difinalisasi.

3. Klaim "meningkat signifikan" tanpa uji statistik apa pun

Sepanjang Bab IV, kenaikan dari siklus I ke siklus II cuma dibandingkan sebagai selisih persentase deskriptif (36% → 55% → 86%, misalnya) — nggak ada uji statistik (uji-t, misalnya) yang benar-benar menguji apakah kenaikan itu signifikan atau masih dalam rentang wajar karena variasi biasa antarsiklus. Dosen penguji bertanya: "Anda menyebut hasil belajar 'meningkat signifikan' dari siklus I ke siklus II. Signifikan menurut uji statistik apa?" Yang sebenarnya diuji: justifikasi metodologi. Kata "signifikan" dalam bahasa sehari-hari (berarti "besar") sering tertukar dengan "signifikan" dalam arti statistik (lolos ambang uji tertentu). PTK memang tidak selalu wajib memakai uji statistik inferensial — tapi kalau kata "signifikan" tetap dipakai di kesimpulan, penulis harus siap ditanya balik dasarnya.

4. Refleksi siklus II yang nyaris identik kata-katanya dengan refleksi siklus I

Bagian refleksi di akhir tiap siklus seharusnya mencerminkan evaluasi spesifik atas apa yang terjadi di siklus itu. Di draf ini, refleksi siklus II memakai struktur kalimat dan bahkan sebagian frasa yang nyaris sama persis dengan refleksi siklus I — cuma angkanya yang diganti. Dosen penguji bertanya: "Refleksi siklus I dan siklus II Anda kalimatnya sangat mirip. Apa yang benar-benar berbeda dari proses pembelajaran di siklus II, di luar angka hasil belajarnya?" Yang sebenarnya diuji: konsistensi logika, sekaligus jebakan kedalaman. Refleksi yang ditulis sebagai salinan dengan angka diganti menunjukkan proses evaluasi antarsiklus belum benar-benar dilakukan mendalam — padahal refleksi itulah yang seharusnya menjustifikasi kenapa tindakan di siklus II berbeda dari siklus I.

5. Kesimpulan yang mengklaim hubungan sebab-akibat tanpa kelas kontrol

Kesimpulan menyebut "metode pembelajaran ini terbukti meningkatkan hasil belajar siswa". Tapi desain PTK di draf ini cuma satu kelas, dua siklus, tanpa kelas pembanding yang tidak menerima perlakuan yang sama. Dosen penguji bertanya: "Anda menyimpulkan metode ini 'terbukti' meningkatkan hasil belajar. Tanpa kelas kontrol, bagaimana Anda memastikan kenaikan ini bukan karena faktor lain — soal yang lebih mudah di siklus II, misalnya, atau siswa yang sekadar makin terbiasa dengan formatnya?" Yang sebenarnya diuji: pertahanan di bawah tekanan. Klaim kausal ("terbukti meningkatkan") jauh lebih kuat dari yang desain PTK tanpa kontrol bisa buktikan. Jawaban yang jujur mengakui keterbatasan desain ini di bagian keterbatasan penelitian — bukan menghindarinya di kesimpulan supaya kedengaran lebih meyakinkan.

Polanya, bukan kasusnya

Lima celah di atas bukan cuma soal satu mata pelajaran atau satu kelas. Kalau ditarik pola: (1) jumlah subjek yang berubah antarbagian, (2) persentase tanpa pembagi yang jelas, (3) kata "signifikan" dipakai tanpa uji statistik, (4) refleksi yang ditulis template tanpa evaluasi mendalam, (5) klaim kausal tanpa desain yang mendukungnya. PTK memang format yang dianggap paling "aman" di antara jenis penelitian pendidikan lain — justru karena itu, celah semacam ini sering luput karena baik penulis maupun pembimbing sudah terbiasa dengan formatnya dan berhenti membaca kritis. Pertanyaan yang perlu ditanyakan sebelum sidang bukan "apa yang bakal ditanya soal topik saya". Tapi: kalau ada penguji yang menyandingkan tiap angka di skripsiku dengan angka lain yang berdekatan, di titik mana dua angka itu nggak akan cocok? Lima titik di atas adalah gambaran dari sesi TAKKA, dosen penguji AI di Qritis yang menyerang persis di titik-titik seperti itu — cuma dari apa yang benar-benar tertulis di draftmu. Skripsimu perlu diuji. Bukan dipuji.