Seputar skripsi

Bedah Kasus: Skripsi Akuntansi yang Lolos Sidang, Tapi Nyaris Jatuh di Lima Titik Ini

Skripsi ini bukan skripsi buruk — datanya lengkap, sistematikanya rapi, dan akhirnya lolos sidang. Tapi lima detail di dalamnya adalah jenis celah yang bisa bikin sidang berjalan sangat berat.

Tim Qritis

·

17 Agustus 2026

S

Skripsi ini bukan skripsi buruk — datanya lengkap, sistematikanya rapi, dan akhirnya lolos sidang. Tapi lima detail di dalamnya adalah jenis celah yang bisa bikin sidang berjalan sangat berat kalau penguji yang duduk di depanmu teliti membacanya. Dua di antaranya diangkat dari pola yang benar-benar ditemukan di penelitian sejenis — bukan dikarang.

Kita bedah satu pola skripsi akuntansi bertema audit internal — objeknya sebuah retailer bahan bangunan skala menengah (detail identitas dilepas; ini bukan mengutip satu judul/kampus tertentu, tapi pola yang berulang di banyak penelitian sejenis). Judulnya soal evaluasi sistem pengendalian internal atas persediaan, memakai pendekatan deskriptif kualitatif lewat wawancara dan dokumen perusahaan. Skripsi ini dinyatakan lulus. Tapi ada lima titik di dalamnya yang, kalau ditemukan dosen penguji yang lebih tajam, bisa jadi satu jam paling berat dalam prosesnya.

1. Metode pencatatan persediaan yang berubah sendiri di tengah bab

Dosen penguji baru saja membuka dua halaman berdampingan — Bab II dan Bab IV — sesuatu yang jarang dilakukan pembimbing karena butuh waktu, tapi persis yang dilakukan penguji yang benar-benar teliti. Di Bab II, penulis menjelaskan bahwa perusahaan memakai metode FIFO untuk pencatatan persediaan. Di Bab IV, saat membahas kartu stok, muncul kalimat "perusahaan menerapkan metode rata-rata tertimbang (weighted average) dalam menghitung nilai persediaan akhir." Dua metode ini tidak bisa dipakai bersamaan untuk barang yang sama — itu dua sistem penilaian persediaan yang menghasilkan angka HPP berbeda. Butuh waktu kurang dari lima detik bagi dosen penguji untuk menemukannya. Pertanyaan yang muncul: "Bab II Anda tulis FIFO, Bab IV Anda tulis rata-rata tertimbang. Perusahaan ini pakai yang mana, sebenarnya?" Yang sebenarnya diuji: apakah Bab IV benar-benar hasil observasi lapangan, atau sebagian ditulis dari template teori generik tanpa dicek ulang terhadap apa yang sebenarnya ditemukan di perusahaan. Sumbu: konsistensi logika — dan ini jenis celah yang tidak butuh keahlian akuntansi mendalam buat ditemukan, cukup baca dua bab berdampingan.

2. Kesimpulan "secara umum baik", tapi dua kelemahan yang justru inti dari pengendalian internal

Sesi bergeser ke Bab IV bagian kesimpulan sementara, bagian yang biasanya dibaca cepat karena kedengarannya positif. Penulis menutupnya dengan nada percaya diri: implementasi pengendalian internal "secara umum sudah baik", terutama di lingkungan pengendalian dan sistem informasinya. Dosen penguji membiarkan kalimat itu selesai dulu, baru menggulir naik ke dua paragraf sebelumnya — tempat penulis sendiri menuliskan dua kelemahan: pemisahan tugas yang lemah (staf gudang merangkap pencatatan) dan frekuensi stock opname/pemantauan yang jarang. Ini titik yang paling sering muncul di penelitian pengendalian internal persediaan secara nyata, bukan hanya di kasus ini. Dalam kerangka pengendalian internal apa pun — COSO atau yang lain — pemisahan tugas bukan detail kecil. Itu salah satu komponen paling mendasar untuk mencegah kesalahan sekaligus kecurangan yang tidak terdeteksi. Menyebut pengendalian "secara umum baik" sambil menemukan sendiri celah di komponen paling mendasarnya adalah dua kesimpulan yang menarik ke arah berlawanan. Pertanyaan yang muncul: "Anda menyimpulkan pengendalian internal 'secara umum baik', tapi menemukan sendiri tidak ada pemisahan tugas antara gudang dan pencatatan. Bagaimana dua hal ini bisa sejalan?" Yang sebenarnya diuji: apakah kesimpulan skripsi ini ditarik dari data yang sama yang disajikan, atau dari template kesimpulan "secara umum sudah baik" yang ditempel tanpa menimbang bobot temuan sendiri. Sumbu: konsistensi logika, dan ini yang paling mudah membuat penguji ragu terhadap keseluruhan Bab IV.

3. Populasi transaksi disebut, tapi sampel diambil tanpa periode yang jelas

Kembali ke bab metode. Penulis menyebutkan populasi penelitian adalah "seluruh transaksi persediaan selama satu tahun berjalan" — kedengarannya menyeluruh. Tapi begitu ditelusuri ke bagian analisis, data yang benar-benar dianalisis cuma satu kuartal, tanpa penjelasan kenapa periode itu yang dipilih, dan tanpa menyebut apakah periode itu representatif (misalnya, mewakili musim ramai/sepi, atau justru periode dengan volume transaksi terendah). Pertanyaan yang muncul: "Kenapa periode datanya cuma satu kuartal itu? Apa periode ini mewakili pola transaksi sepanjang tahun?" Yang sebenarnya diuji: apakah pemilihan periode didasarkan pertimbangan metodologis, atau semata karena data itu yang paling gampang diakses dari perusahaan. Sumbu: justifikasi metodologi. Kalau jawabannya "karena itu data yang diberikan perusahaan", itu jawaban jujur — tapi juga jawaban yang mengonfirmasi sampel dipilih karena kemudahan, bukan representativitas.

4. Sumber teori pengendalian internal berumur puluhan tahun, dipakai sebagai satu-satunya kerangka

Dosen penguji balik lagi ke daftar pustaka, kali ini mengecek tahun terbit tiap rujukan utama di Bab II — bukan isinya, cuma angkanya. Seluruh Bab II mengacu ke satu kerangka pengendalian internal dari buku terbitan lama, tanpa dibandingkan dengan kerangka yang lebih baru atau standar audit terkini. Tidak masalah kalau kerangka lama itu memang masih relevan — masalahnya penulis tidak pernah menjelaskan kenapa kerangka itu yang dipilih dibanding kerangka lain yang lebih umum dipakai belakangan ini. Pertanyaan yang muncul: "Kerangka pengendalian internal yang Anda pakai ini cukup lama. Kenapa bukan kerangka yang lebih baru?" Yang sebenarnya diuji: bukan soal umur sumbernya semata, tapi apakah penulis sadar ada pilihan lain dan punya alasan menolaknya, atau sekadar memakai satu-satunya buku yang kebetulan dia baca. Sumbu: novelty, karena tinjauan pustaka yang tidak menunjukkan kesadaran akan perkembangan bidang jadi terasa seperti disalin dari skripsi kakak tingkat.

5. Saran perbaikan yang tidak berasal dari temuan sendiri

Sub-sesi terakhir, Bab V. Penulis membacakan rekomendasi penutup dengan nada paling percaya diri di seluruh sidang: "perusahaan sebaiknya mengadopsi teknologi otomatisasi persediaan real-time." Ini titik kedua yang diangkat dari pola nyata, dan dosen penguji menahannya sebentar sebelum menggulir balik ke seluruh temuan Bab IV — yang semuanya soal prosedur manusia (pemisahan tugas yang lemah dan stock opname yang jarang), bukan soal keterbatasan teknologi pencatatan. Rekomendasi teknologi tidak menjawab masalah pemisahan tugas. Sistem otomatis tetap butuh dua orang berbeda yang menginput dan memverifikasi, kalau tidak, otomatisasi hanya memindahkan masalah yang sama ke sistem yang baru. Pertanyaan yang muncul: "Rekomendasi Anda soal otomatisasi real-time — temuan mana di Bab IV yang mengarah ke saran itu, kalau masalah utamanya pemisahan tugas manusia?" Yang sebenarnya diuji: apakah saran ditarik dari analisis sendiri, atau ditempel dari template saran skripsi akuntansi pada umumnya (yang memang hampir selalu menyarankan digitalisasi/komputerisasi, apa pun temuannya). Sumbu: pertahanan di bawah tekanan — karena begitu ditanya balik, penulis harus mengakui saran itu tidak berdasar dari data yang dia kumpulkan sendiri.

Polanya, bukan kasusnya

Lima celah di atas bukan soal satu perusahaan tertentu, dan bukan cuma soal audit persediaan. Kalau ditarik pola: (1) metode/istilah yang berubah antarbab, (2) kesimpulan "secara umum baik" yang bertentangan dengan temuan sendiri, (3) periode/sampel yang diambil karena kemudahan, bukan alasan metodologis, (4) teori yang tidak dibandingkan dengan alternatif, (5) saran yang tidak berasal dari data. Dua di antaranya — kesimpulan yang tidak sejalan dan saran yang melenceng dari temuan — bukan skenario karangan; itu memang pola yang berulang muncul di penelitian pengendalian internal persediaan yang sungguhan. Semua ini bisa muncul di skripsi akuntansi topik apa pun — audit, perpajakan, sistem informasi, keuangan — karena semuanya bukan soal isi akuntansinya, tapi soal apakah kamu benar-benar membaca ulang tulisanmu sendiri secara kritis sebelum orang lain yang melakukannya. Pertanyaan yang perlu kamu tanyakan ke diri sendiri sebelum sidang bukan "apa yang bakal ditanya penguji tentang topik saya". Tapi: kalau ada penguji yang membandingkan tiap bab skripsiku satu sama lain sekritis ini, di titik mana ketidaksesuaiannya bakal ketahuan duluan? Lima titik di atas adalah gambaran dari sesi TAKKA, dosen penguji AI di Qritis yang menyerang persis di titik-titik seperti itu — cuma dari apa yang benar-benar tertulis di draftmu. Skripsimu perlu diuji. Bukan dipuji.